Foto Pre-Wedding yang Indah dan Menawan di Sumba

oleh Natasza Kurniawan [[ 1494813600000 | amDateFormat:'ll | HH:mm' ]] di Pre-Wedding 

Warna:


Hubungan Hani dan Rio baru berlangsung selama enam bulan, namun kisah cinta mereka sudah dimulai sejak tahun 2009. Saat itu, Hani adalah mahasiswa baru di Institut Teknologi Bandung dan Rio merupakan seniornya. "Saya menyukai Rio sejak awal, tetapi tidak pernah menduga bahwa dia memiliki perasaan yang sama. Di hari terakhir masa orientasi siswa, dia menemani saya mencari transportasi untuk pulang," kenang Hani.

Hani dan Rio pun menjadi semakin dekat, namun entah mengapa hubungan mereka tidak pernah diresmikan. "Setelah lulus, kami pikir kami tidak akan bertemu lagi," ujar Hani. Pada tahun 2016, mereka bertemu kembali secara tak terduga dan pergi berkencan beberapa kali. "Ternyata, kami masih menyimpan perasaan yang sama akan satu sama lain. Akhirnya, Rio pun meminta saya untuk menjadi pacarnya," lanjutnya.

Lamaran yang sederhana namun penuh makna terjadi di tempat segalanya bermula. "Pada suatu akhir pekan di Bandung, kami pergi ke beberapa tempat yang biasa kami kunjungi semasa kuliah dulu. Ketika berhenti di gedung fakultas kami, dia melamar saya tepat di mana kami bertemu untuk pertama kalinya. 'Bahkan setelah enam tahun, perasaan ini tetap sama. Aku percaya hanya kamu yang bisa membuatku merasakan hal ini selamanya,' kata Rio," Hani mengenang.

Setelah lamaran romantis tersebut, Hani dan Rio pergi ke Sumba untuk mengabadikan momen pre-wedding­ mereka. Keduanya mengunjungi lima tempat di pulau tersebut, dimulai dari sabana yang menakjubkan. "Dari tempat kami berdiri, kami dapat melihat pemandangan sabana, laut, dan gunung dalam satu frame. Rasanya seperti sedang melihat sebuah lukisan," kata Hani.

Pasangan ini cukup beruntung karena dapat berfoto dengan kuda liar Sumba yang terkenal di Pantai Cemara. Selama pemotretan di Bukit Wairingding, mereka juga berhasil menangkap momen golden hour di mana langit berwarna merah dan oranye. Pantai Walakiri, yang memiliki pasir putih bersih serta air yang sangat jernih, menjadi tempat perhentian terakhir mereka di hari itu.

Perjalanan Hani dan Rio tidak terhenti di sana. Sesi foto terakhir mereka berlangsung di Desa Rende, di mana terdapat rumah berusia 200 tahun yang berisikan jenazah yang diawetkan. "Siapa sangka bahwa kami akan mengambil foto pre-wedding di depan rumah dengan jenazah di dalamnya? Kami juga berfoto dengan kain tenun Sumba yang dijemur di depan rumah," cerita Hani.

Sepanjang sesi pemotretan, Jonathan dari Calia Photography terus menemani pasangan ini. "Dia meriset semua lokasi foto dan bahkan menyarankan busana apa yang sebaiknya kami kenakan," tutur Hani. "Jonathan juga memasang musik yang menenangkan selama pemotretan. Berkat itu, kami dapat menjadi diri sendiri dan merasa lebih luwes saat berpose di depan kamera," lanjutnya, "Semua foto yang ia hasilkan benar-benar luar biasa! Jonathan tidak hanya menangkap pemandangan yang indah, tetapi juga ungkapan perasaan kami yang jujur."


KREDIT KE VENDOR:

  • Hair & Makeup: Vita Ester Makeup
  •  | 
  • Fotografi:

    Calia Photography

  •  | 
  • Gaun & Busana Pengantin: Panacea Wardrobe , BIA by Zaskia Mecca , KASHA by Sjully Darsono
  •  | 
  • Aksesori Pernikahan:

    LITANY

    ,

    WIT Wear It Too

  •  | 
  • Busana Pria: ZARA Men , Arkamaya by Danny Satriadi
  •  | 
  • Bunga: LUX Floral Design

Kirim Komentar Anda

BACA [[ blogCommentsCtrl.commentsCount ]] Komentar

[[ comment.createdAt | amDateFormat : 'll | HH:mm' ]]

[[ comment.account.data.accountable.data.displayName ]] [[ comment.account.data.accountable.data.displayName ]]

[[ comment.content ]]