Blog / Wedding Ideas / Sakral dan Uniknya Prosesi Pernikahan Adat Belitung

Sakral dan Uniknya Prosesi Pernikahan Adat Belitung

Color:
Add To Board
sakral-dan-uniknya-prosesi-pernikahan-adat-belitung-1

Photography: The Portrait Photography

Masyarakat Bangka Belitung masih sangat kental menjalani adat istiadat. Adapun adat Melayu sangatlah memengaruhi adat istiadat yang berkembang di masyarakat di sana, terutama Belitung. Dan uniknya pernikahan adat Belitung adalah pengantin pria menunggu untuk dijemput pengantin wanita. Bahkan seperti dilansir dari senibudayaku.com, pada lamaran tidak mesti pria yang melakukannya. Semuanya dilakukan berdasarkan kedua belah pihak.

Meski yang menjemput adalah pengantin wanita, namun pengantin pria tetap harus mengekspresikan kebahagiaannya memiliki seorang istri dengan memberikan tipa atau kotak berisi uang. Tip aini biasanya disimpan di balik rangkaian bunga yang diberikan kepada pengantin wanita. Baru setelah prosesi penjemputan, maka kedua pengantin berjalan menuju kediaman pengantin wanita. Sepanjang perjalanan inilah kedua pengantin akan diiringi musik rebana.

Ada tiga pintu utama yang harus "direbut" oleh pengantin pria.

Idealnya pernikahan adat Belitung akan berlangsung tiga hari, tapi ada juga yang sampai tujuh hari. Pada hari pertama, pengantin pria mengetuk pintu pengantin wanita tanpa didampingi oleh kedua orangtuanya. Ia pun tak lantas bisa dengan mudah masuk ke dalam rumah. Pengantin pria harus melewati tiga pintu atau berebut lawang terlebih dahulu.

Di pintu pertama, perwakilan pengantin pria harus mengucapkan pantun yang kemudian dibalas oleh perwakilan pengantin wanita. Orang yang membalas pantun ini haruslah tukang tanak atau orang yang bertuga memasak nasi. Mengapa harus berbalas pantun dengan tukang tanak? Filosofinya adalah pengantin pria harus siap menafkahi istri dan anak-anaknya kelak. Pintu pertama ini biasanya dibuat di halaman rumah.

Setelah berhasil berebut lawang satu maka masuklah pengantin pria ke pintu kedua. Lawang ini disebut dengan Pengulu gawai yang adalah pemimpin hajatan. Ia akan menanyakan maksud kedatangan pengantin pria dan ditanya kesiapannya menjadi imam bagi istri serta anak-anaknya kelak. Jika Pengulu gawai menilai pengantin pria "lolos ujian" maka dapat masuk ke pintu ketiga yang dikawal oleh Mak Inang.

Mak Inang adalah perias pengantin. Ia akan menanyakan sire rombongan atau barang bawaan apa saja yang akan dibawa rombongan ketika hendak menikahi pengantin wanita. Setelah Mak Inang menyetujui maka rombongan dengan seluruh barang bawaannya boleh masuk ke dalam. Ini semacam seserahan pengantin pria kepada pengantin wanita. Setidaknya ada 17 jenis barang yang dibawa, karena ini merepresentasikan jumlah rakaat salat dalam sehari.

Selain barang, rombongan juga harus membawa uang yang berkelipatan lima. Kelipatan lima adalah simbol jumlah salat yang wajib dilakukan keluarga Muslim. Dan pengantin pria nantinya adalah imam dalam keluarga, maka diwajibkan untuk memberikan uang dalam kelipatan lima. Barulah setelah semua seserahan diberikan, pengantin pria dan wanita bisa dipertemukan serta melangsungkan akad nikah.

Jika di hari pertama prosesi utamanya adalah berebut lawang maka di hari kedua diadakan bejamu. Pada prosesi bejamu, barulah kedua orangtua pengantin pria dipertemukan dengan orang tua serta seluruh keluarga pengantin wanita. Di hari kedua inilah kedua keluarga besar dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Adalah Mak Inang yang berperan banyak di prosesi ini. Ia adalah pemandu seluruh prosesi adat tidak terkecuali prosesi tukar kue. Makna dari prosesi tukar kue adalah mertua dan menantu harus saling mengingat dan menyayangi.

Lalu di hari ketiga, kedua pengantin akan menjalani prosesi mandi dengan air kembang tujuh rupa. Prosesi ini dinamakan mandik besimbor, lalu kedua pengantin menginjak telur dan berlari ke arah pelaminan. Biasanya pada prosesi ini banyak tamu undangan akan menebak siapa yang akan sampai ke pelaminan terlebih dahulu, apakah pengantin wanita atau pria? Dipercaya siapa yang sampai ke pelaminan lebih dulu adalah yang dominan mengatur perjalanan keluarganya.

Pakaian pernikahan dipengaruhi budaya Arab dan Tionghoa.

Adapun baju pernikahan adat Belitung dinamakan baju seting untuk pengantin wanita dan kain cual untuk pengantin pria. Kedua pakaian ini adalah akulturasi budaya Arab dan Tionghoa. Warna merah adalah warna yang mendominasi pakaian pengantin Belitung. Pada baju seting berbentuk baju kurung dengan manik-manik, lengkap dengan ikat pinggang, hiasan bahu serta kalung keemas an.

Sementara untuk pengantin pria menggunakan jubah model Arab berwarna merah yang dipadukan dengan selendang atau selempang. Untuk dibagian bawahnya, pengantin pria biasanya menggunakan celana atau kain cual yang merupakan tenun ikat dengan teknik pembuatan yang rumit. Pengantin pria juga mengenakan penutup kepala yang warnanya senada dengan bajunya, sementara untuk alas kaki menggunakan sandal Arab.

Vendors you may like

Instagram Bridestory

Follow @thebridestory on Instagram for more wedding inspirations

Visit Now
Visit Now