Jawa dikenal dengan warisan budayanya yang begitu kaya, salah satunya melalui pakaian tradisional yang masih lestari hingga kini. Dalam berbagai perayaan istimewa seperti pernikahan adat Jawa, upacara sakral, maupun perhelatan budaya, busana tradisional selalu hadir sebagai wujud penghormatan kepada leluhur. Bila kebaya menjadi pakaian identitas yang lekat dengan perempuan Jawa, maka beskap adalah busana adat Jawa yang diperuntukkan bagi pria. Beskap menyimpan filosofi yang mendalam, mulai dari kancing yang disusun menyamping untuk melambangkan kehati-hatian dalam mengambil keputusan, sabuk atau ubed menandakan ketekunan dan kegigihan, sementara kain jarik mengingatkan manusia agar tidak diliputi iri hati.
Ciri khasnya terlihat dari potongan depan yang tidak simetris dengan kancing menyamping, menyesuaikan ruang untuk keris sebagai perlengkapan utama. Beskap umumnya dibuat dengan kain polos atau berwarna hitam dengan tampil sederhana yang sarat akan wibawa, lengkap dengan aksesori pengantin pria Jawa berupa stagen, blangkon, jarik, dan keris. Tak heran jika busana pengantin Jawa kerap menampilkan beskap sebagai salah satu elemen utama dalam pernikahan adat. Telusuri keempat jenis beskap Jawa yang patut Anda kenali dan temukan inspirasi busana adat terbaik yang cocok untuk hari pernikahan Anda.
Beskap Langenharjan
Akreditasi: Speculo Weddings
Beskap Langenharjan merupakan salah satu busana Jawa yang paling kental dipengaruhi unsur Eropa. Hal ini tampak dari detail potongannya yang menyerupai jas, dengan bagian depan berbentuk jaz buka, yakni lipatan dari kerah hingga dada yang menutup rapat. Kancingnya biasanya berjumlah satu hingga dua buah, sementara bagian belakang dibuat lebih pendek dengan adanya krowokan atau celah khusus untuk menyelipkan keris. Lapisan dalamnya pun sangat khas, terdiri dari kemeja lengan panjang dengan kerah tegak (staande kraag) yang dipadukan dengan dasi kupu-kupu, lalu dilengkapi rompi berpotongan tengah.
Pada masa lampau, Langenharjan adalah busana resmi yang dikenakan oleh raja maupun putra dalem dalam upacara kebesaran. Perangkat pelengkapnya sangat lengkap, meliputi kain batik bermotif parang kusumo, stagen, sabuk cindhe, boro cindhe, hingga epek wuntu walang dengan timang emas. Penutup kepala berupa destar disamakan motifnya dengan kain bawahan, sementara keseluruhan tampilan disempurnakan dengan selop hitam serta sentuhan perhiasan sederhana berupa kalun ulur atau kerset, bros, dan jenthitan pada destar.
Sejarah busana Langenharjan lahir pada masa K.G.P.A.A. Mangkunegoro IV ketika beliau menghadiri undangan Paku Buwana IX dalam peresmian pesanggrahan Langenharjo di Sukoharjo. Karena belum menemukan busana yang sesuai untuk acara resmi tersebut, Sri Mangkunegoro IV kemudian memodifikasi jas Belanda (Rokkie Walandi) dengan cara memotong bagian belakangnya agar tetap dapat dipasangi keris. Hasil kreasi tersebut melahirkan gaya busana baru yang memadukan sentuhan Eropa dengan tradisi Jawa. Sejak saat itu, Paku Buwana IX menamai busana tersebut sebagai "Langenharjan," sesuai dengan tempat bersejarah lahirnya busana ini, sekaligus menjadikannya pakaian wajib saat menghadap raja.
Beskap Sikepan
Akreditasi: Fatahillah Ginting
Dibandingkan dengan jenis beskap lainnya, Sikepan memiliki karakter yang cukup unik. Busana ini terdiri dari jas pendek dengan bukaan di bagian tengah, namun menariknya, bukaan tersebut tidak dapat ditutup ataupun dikancingkan. Lapisan dalamnya berupa kemeja putih berkerah tegak, sehingga menghasilkan tampilan yang sangat berwibawa.
Pada tradisi di Mangkunegaran, terdapat dua jenis Sikepan, yaitu Sikepan Alit dan Sikepan Ageng. Sikepan Alit ditandai dengan kancing yang terpasang pada sisi kanan, sedangkan Sikepan Ageng tampil lebih megah dengan tambahan bordiran emas di bagian kanan dan kiri. Perbedaan ini sekaligus menandai fungsi dan tingkatan dari busana tersebut.
Pada masa lalu, Sikepan dikenakan oleh para pejabat Mangkunegaran, khususnya mereka yang menduduki jabatan Bupati Anom dan Tumenggung. Tak lengkap rasanya jika busana ini tidak dipadukan dengan aksesori khas Jawa, seperti keris yang diselipkan di bagian belakang serta destar atau blangkon sebagai penutup kepala. Seluruh elemen tersebut berpadu membentuk simbol kehormatan dan kebangsawanan yang melekat pada pemakainya.
Beskap Landung
Akreditasi: Dimas Prawira
Berbeda dari Langenharjan yang sarat nuansa Eropa, Beskap Landung tampil lebih sederhana namun tetap memancarkan kewibawaan. Sekilas, busana ini hampir serupa dengan beskap cekak, tetapi dengan potongan yang lebih panjang menyerupai jas formal. Ciri khasnya terletak pada bagian belakang yang tidak memiliki krowokan untuk menyelipkan keris, sehingga tampilannya lebih lurus dan rapi.
Keistimewaan lain dari Beskap Landung adalah adanya pethakan, yaitu elemen berupa rangkapan kain putih selebar 4-5 cm yang terlihat pada kerah dan ujung lengan, seolah memberikan ilusi bahwa busana ini dikenakan bersama kemeja putih di baliknya. Detail sederhana tersebut memberikan esensi formal sekaligus elegan untuk siapa saja yang mengenakannya.
Dalam tradisi pernikahan, Beskap Landung biasanya dikenakan saat tahapan midodareni, yaitu sebuah prosesi adat yang dilaksanakan malam hari sebelum hari pernikahan tiba. Pada momen tersebut, mempelai pria bersama keluarga berkunjung ke kediaman mempelai perempuan untuk menyerahkan seserahan, sekaligus melaksanakan ritual yang menandai malam terakhir bagi kedua calon pengantin menjalani masa lajang.
Beskap Jawi Jangkep
Akreditasi: MORDEN
Masih dalam deretan busana adat Jawa untuk pria, beskap Jawi Jangkep merupakan salah satu yang paling ikonik dan sarat makna. Pakaian ini berasal dari Keraton Kasunanan Surakarta di Jawa Tengah dan hingga kini tetap lestari sebagai simbol keanggunan serta kejantanan pria Jawa. Ornamen pakaian Jawi Jangkep terdiri dari atasan berupa beskap, bawahan kain jarik, serta dilengkapi beragam aksesori seperti keris, blangkon, alas kaki, stagen, ikat pinggang, hingga hiasan bunga melati yang simbol wibawa dan kebijaksanaan pria Jawa.
Jawi Jangkep memiliki dua varian utama. Pertama, yaitu Jawi Jangkep resmi yang umumnya dikenakan dalam acara kebesaran atau upacara adat istimewa. Atasan berwarna hitam dengan sentuhan motif emas memberi kesan elegan yang seolah menegaskan posisi pemakainya dalam sebuah perhelatan resmi. Kedua adalah Jawi Jangkep Padinten, yaitu versi yang lebih sederhana untuk acara nonformal, seperti pertemuan keluarga atau kegiatan sehari-hari. Meski tidak dikhususkan untuk acara penting, busana ini tetap harus dikenakan sesuai aturan, mulai dari detail kain jarik dan aksesori pelengkapnya.