Kehangatan Sebuah Prewedding yang Mengusung Konsep Jawa Tradisional

by Anindya Paramitha [[ 1586397600000 | amDateFormat:'ll | HH:mm' ]] in Pre-Weddings 

Colors:

Ketika melihat Dewi di salah satu kafe di Jakarta, Arya memberanikan diri untuk mengajaknya berkenalan. "Ia mendatangiku untuk meminta izin pinjam charger untuk telepon genggamnya. Eh, kemudian dia mengajak kenalan dan kami jadi mengobrol, lalu saling tukar nomor telpon," kenang Dewi mengenai awal mula pertemuannya dengan Arya. Tak lama kemudian, keduanya mulai menjalani hubungan romantis yang berujung pada keputusan untuk menghabiskan masa hidup bersama.

"Sifat yang membuat aku yakin bahwa Arya itu the one adalah kebaikan dia, sifat bertanggung jawab, serta humor dia. Kami memiliki frekuensi yang sama ketika mengobrol. Arya selalu bisa membuat aku tertawa, dia memang senang bercanda," ungkap Dewi. Calon pengantin ini juga mengungkapkan bahwa Arya dapat menerimanya apa adanya, namun tetap berusaha membuatnya menjadi lebih baik. Tidak heran bahwa sifat-sifat inilah yang membuat Dewi mengucapkan 'ya' ketika dilamar oleh Arya.

Kedua calon mempelai yang berdarah Jawa ini sepakat ingin melestarikan budaya latar belakang mereka melalui sebuah album prewedding. "Aku berasal dari Yogyakarta, sedangkan Arya dari Solo," cerita Dewi. Selain melestarikan budaya, mereka juga menganggap bahwa prewedding dengan adat Jawa tak akan lekang oleh waktu. "Adat Jawa itu klasik dan elegan. Beberapa tahun dari sekarang pun, konsep prewedding ini tidak akan ketinggalan zaman," tambahnya.

Sesi pemotretan Dewi dan Arya berlangsung lancar dan tergolong cepat. Keduanya tiba di lokasi pada pukul 11.00 WIB dan langsung berganti ke pakaian tradisional serta riasan yang bernuansa natural. Cuaca pada hari itu pun mendukung, matahari di siang harinya tidak terlalu terik namun memberikan cahaya hangat yang membuat hasil foto-foto mereka terkesan lebih intimate. "Putri membuat sesi pemotretan kami sangat menyenangkan. Ia mudah mencairkan suasana hingga aku dan Arya tidak merasa canggung sama sekali. Karena itu kami dapat menyelesaikan pemotretan dengan cepat, pada jam 4 sore kami sudah wrapping up," cerita Dewi.

Saran Dewi kepada para brides-to-be di luar sana yang sedang mempersiapkan prewedding mereka adalah untuk menentukan tema dan konsepnya terlebih dahulu. Kemudian, Dewi menyarankan untuk memilih fotografer yang dapat diajak berdiskusi mengenai konsep tersebut. "Terakhir, jangan merasa canggung di depan kamera. Bila kamu sudah memilih fotografer yang tepat, kamu akan secara langsung merasa lebih nyaman dalam berpose," ucap Dewi.


CREDIT TO VENDORS:

  • Hair & Makeup: Tami Rubiyanto ,

    Sanggar Nanin Fadlan

    , Mia Axl
  •  | 
  • Dress & Attire: sanggarnusantaradotcom
  •  | 
  • Photography: Putri Dwi Photography

Post Your Comment

READ [[ blogCommentsCtrl.commentsCount ]] Comments

[[ comment.createdAt | amDateFormat : 'll | HH:mm' ]]

[[ comment.account.data.accountable.data.displayName ]] [[ comment.account.data.accountable.data.displayName ]]

[[ comment.content ]]

Show