Blog / Wedding Ideas / Filosofi Pernikahan Adat Jawa ala Mamie Hardo dan Mita Hardo

Filosofi Pernikahan Adat Jawa ala Mamie Hardo dan Mita Hardo

Color:
Add To Board
filosofi-pernikahan-adat-jawa-ala-mamie-hardo-dan-mita-hardo-1

Photography: Askara Photography

Pernikahan adat Jawa selalu berhasil menarik perhatian lewat ciri khas terbaiknya, mulai dari rangkaian upacara, atribut yang dikenakan, hingga makna yang terkandung di dalamnya. Ada banyak sekali ritual yang harus dijalankan oleh calon pengantin guna memenuhi unsur-unsur kebudayaan Jawa. Seakan tak pernah lekang oleh zaman. Nyatanya, masih banyak sekali calon pengantin berdarah Jawa yang masih memiliki keinginan tinggi untuk melestarikan budayanya. Salah satunya dengan menggelar selebrasi pernikahan yang sarat akan gaya tradisional.

Melalui Instagram Live, Bridestory berkesempatan untuk berbincang bersama pakar pernikahan adat Jawa sekaligus perias pengantin senior, Mamie Hardo. Telah berkecimpung selama 38 tahun dalam tata rias pengantin membuat jasa beliau selalu dipercaya oleh banyak calon pengantin saat akan menggelar pernikahan tradisional. Tak hanya Ibu Mamie, kami juga turut menghadirkan sang putri bungsu, Mita Hardo, yang merupakan tangan kanan sang Ibu dalam setiap ritual pernikahan adat Jawa.

Seperti yang telah diketahui, pengantin wanita Jawa selalu identik dengan paes yang disematkan pada area kepala. Paes secara terminologi adalah hiasan dari bagian dahi sampai rambut yang biasa digunakan oleh pengantin wanita. Hiasan ini merupakan ornamen tata rias pengantin yang sudah turun temurun dari nenek moyang. Menurut Mamie, daerah Solo mewakili tiga jenis paes yang berbeda, yaitu Solo Putri, Solo Basahan Keprabon, dan Dodot Solo Basahan. Lain halnya dengan daerah Jogja yang hanya memiliki dua jenis paes, yaitu Jogja Putri dan Jogja Paes Ageng. Perbedaan paling mencolok di antara keduanya ialah prodo yang hanya dikenakan pada Paes Ageng saja. Prodo merupakan lembaran serbuk emas yang diaplikasikan pada bagian tepi.

Filosofi Pernikahan Adat Jawa ala Mamie Hardo dan Mita Hardo Image 1
Fotografi oleh Owlsome Project


Selain Solo dan Jogja, terdapat paes Jawa Timur yang mewakili lima daerah, yaitu Trenggalek, Bojonegoro, Lumajang, Blambangan, dan Madura. "Jadi, tidak hanya milik pengantin Jawa Tengah, jika kita berbicara soal paes," ucap Mita dengan lugas. Uniknya, di Madura sendiri terdapat paes Madura Legha, di mana sang pengantin laki-laki juga diharuskan untuk memakai paes. Tentunya, seluruh riasan ini telah mengikuti pakem warisan nusantara.

Makna dari Bentuk-bentuk Paes

Lekukan bagian tengah dari paes Solo dinamakan gajahan atau panunggul, yang berarti harapan bahwa seorang wanita akan ditinggikan derajatnya dan dihormati. Pengapit atau lekukan yang berada di samping kiri dan kanan gajahan merupakan lambang pendamping agar rumah tangga yang dibangun senantiasa berjalan lurus tanpa hambatan berarti. Sedangkan penitis berbentuk setengah bulatan ujung telur yang memiliki makna bahwa sang pengantin wanita harus tepat dalam mengambil keputusan saat berumah tangga. "Jadi, dia harus menjadi decision maker juga untuk menentukan jalan keluar," tambah sang putri bungsu. Terakhir, terdapat godheg, yang artinya sebuah pengharapan agar pengantin senantiasa introspeksi terhadap diri sendiri.

Dalam hal busana, Solo Basahan mengenakan kain kemben bernama kampuh dengan motif alas-alasan (binatang) atau tumbuhan hutan yang memiliki panjang hingga tujuh meter, sementara Dodot Solo Keprabon hadir dalam balutan bolero lengan panjang berbahan beludru. Walaupun terlihat serupa, nyatanya daerah Jogja mempunyai motif yang cukup berbeda. "Pada Paes Ageng Jogja, pengantin akan dibalut dengan kemben bermotif gurdo atau lambang garuda. Itulah yang membuatnya berbeda sekali," jelas Ibu Mamie.

Filosofi Pernikahan Adat Jawa ala Mamie Hardo dan Mita Hardo Image 2
Fotografi oleh Soe and Su


Beralih ke kain batik atau yang biasa disebut dengan jarik, adat Jawa memiliki beragam motif dan filosofi yang mendalam, mulai dari motif Sido Mukti (kemakmuran), Sido Luhur (berbudi luhur), Sido Drajat (kedudukan tertinggi), Sido Mulyo (kehidupan mulia), serta Sido Asih (simbol kasih sayang). Sebagai alternatif, calon pengantin juga dapat memilih motif yang sudah dikenal dan banyak disukai, seperti batik wahyu tumurun yang bermakna agar sang pengantin selalu mendapat wahyu dan pertolongan dari Tuhan. "Jadi, sebagai orang Jawa, sebenarnya motif-motif kain itu sudah diatur. Mulai dari lahir, dewasa, menikah, sampai meninggal pun setiap tahap itu ada makna-maknanya. Dan pastinya semua itu mengandung filosofi dan makna yang baik pula," imbuh Mita. Mendengar tanggapan sang putri, Ibu Mamie juga turut menambahkan sebuah petuah. "Hanya saja, sekarang ini banyak sekali busana yang telah dimodifikasi. Menurut saya, sebaiknya kalau kita mau pakai sesuatu yang tradisional, gunakanlah segala sesuatu yang betul-betul tradisional," tandasnya.

Prosesi Pernikahan Adat Jawa serta Maknanya

Rangkaian pernikahan adat Jawa sebelum Hari H meliputi siraman dan malam midodareni. Siraman merupakan langkah pertama yang hanya dihadiri oleh keluarga inti dari mempelai perempuan. Fungsinya adalah untuk mengucapkan terima kasih atas didikan dan kasih sayang yang telah diberikan oleh orang tua kepada anaknya. Tahap ini akan diawali dengan prosesi sungkeman, guna memohon doa restu. Selanjutnya, pengantin wanita akan dimandikan dengan didampingi kedua orang tua. Dalam filosofi Jawa, prosesi ini berguna sebagai pembersihan diri lahir dan batin agar terhindar dari segala hal yang kurang baik di masa lalu.

Filosofi Pernikahan Adat Jawa ala Mamie Hardo dan Mita Hardo Image 3
Fotografi oleh The Potomoto


Usai siraman, acara dilanjutkan dengan malam midodareni sebagai bentuk ramah-tamah antar kedua keluarga. Ini ditandai dengan kedatangan keluarga mempelai pria sambil membawa seserahan untuk menyampaikan kesiapannya dalam mempersunting calon mempelai perempuan. Pada tahap ini, terdapat wejangan Catur Wedha yang akan diberikan oleh calon mertua pria kepada calon menantunya.

Filosofi Pernikahan Adat Jawa ala Mamie Hardo dan Mita Hardo Image 4
Fotografi oleh The Potomoto


Setelah pernikahan selesai, pasangan yang sudah sah menjadi suami-istri diharuskan untuk melalui ritual panggih. Mereka dipertemukan secara adat untuk bersama-sama melaksanakan rangkaian prosesi. Setiap tahapan dari panggih memiliki makna berupa harapan dan doa. Mulai dari injak telur agar cepat diberikan keturunan yang baik, cuci kaki sebagai bukti bakti istri terhadap suami, serta kacar-kucur untuk menunjukkan kerjasama dalam kehidupan rumah tangga.

Filosofi Pernikahan Adat Jawa ala Mamie Hardo dan Mita Hardo Image 5
Fotografi oleh Le Motion


Ibu Mamie juga membagikan beberapa hal yang kerap menjadi tantangan dari sisi calon pengantin. "Saya selalu memberikan nasihat kepada calon pengantin baik sebelum Hari H ataupun saat Hari H. Satu hal yang selalu saya arahkan kepada pasangan, cobalah untuk berpuasa. Puasa kalau bisa Senin-Kamis. Rata-rata dari mereka bisa melakukannya dengan baik. Tapi yang agak sulit bagi mereka adalah, ketika diharuskan untuk tidak bertemu selama 40 hari," ujarnya sambil tertawa. Beliau mengungkapkan, bahwa calon pengantin seringkali meminta nego agar lama pingitan bisa diperpendek. "Hanya bisa dinego sampai 5 hari saja. Karena dalam hitungan jawa, satu minggu adalah 5 hari, jadi kalian tidak boleh bertemu selama 5 hari."

Filosofi Pernikahan Adat Jawa ala Mamie Hardo dan Mita Hardo Image 6
Fotografi oleh Iluminen


Ritual pingitan tentu saja memiliki tujuan yang baik untuk kedua calon pengantin. Hal ini semata-mata agar terhindar dari konflik yang mungkin saja muncul menjelang pernikahan. "Saya pikir pasangan itu saat hari pernikahannya semakin dekat, mereka cenderung lebih sensitif. Hal yang kecil bisa membuat satu gesekan, baik itu gesekan dalam hubungan ataupun gesekan dalam kedua belah pihak keluarga. Inilah alasan mengapa kalian tidak boleh bertemu. Menghindari gesekan supaya saat Hari H bisa berjalan dengan lancar," jelas Ibu Mamie dengan detail. Dalam masa pingitan juga terdapat anjuran do's and don'ts yang harus dipatuhi agar calon pengantin tidak terkena Sawan Manten (kesialan yang menimpa calon pengantin atau keluarganya menjelang atau pasca dilaksanakannya prosesi perkawinan).

Isi Seserahan dalam Adat Jawa

Secara umum, isi seserahan adat Jawa hampir sama dengan daerah lainnya. Hanya saja terdapat spesifikasi khusus yang harus ada sebagai isi seserahan lamaran tradisional, yaitu meliputi nasi golong, ubo rampe, pisang sanggan, dan tebu wulung. Nasi golong memiliki arti bahwa segala sesuatunya harus dimulai dari niat yang suci, sementara tebu wulung adalah, sebuah pengharapan agar calon pengantin dibekali keyakinan yang teguh dalam membangun bahtera rumah tangga.

Filosofi Pernikahan Adat Jawa ala Mamie Hardo dan Mita Hardo Image 7
Fotografi oleh Alienco Photography

Melebar kepada isi seserahan pada umumnya, pihak calon mempelai pria harus menyiapkan satu pengadek (hantaran berisi atasan-bawahan komplit), termasuk stagen yang berbentuk gulungan kain panjang sebagai pelengkap pakaian tradisional Jawa.

Cara Mempersiapkan Diri dalam Melalui Serangkaian Upacara Adat

Mengingat ritual upacara adat jawa yang sangat panjang, tentu calon pengantin harus mempersiapkan diri baik secara mental maupun fisik. Mita kemudian memberikan petuah penting bagi calon pengantin yang sedang merencanakan pernikahan dalam balutan adat Jawa. "Jangan lupa untuk bersihkan pikiran. Harus belajar lagi, agar tahu masing-masing maknanya seperti apa. Kedua, jauhkan pikiran negatif dan cobalah untuk memasrahkan diri. Terakhir, nikmati semua prosesi yang ada. Karena begitu sudah melewati ini semua, pasti calon pengantin akan rindu saat berada di situasi ini lagi," tuturnya.

Filosofi Pernikahan Adat Jawa ala Mamie Hardo dan Mita Hardo Image 8
Fotografi oleh The Eternity

Sebagai seorang senior, Ibu Mamie juga turut menutup perjumpaan dengan wejangan yang berarti. "Kita dapat memanfaatkan kemajuan teknologi sehingga tradisi dapat dipahami oleh generasi muda. Dengan demikian, acara tadi tidak hanya ritual tanpa makna, tetapi ada keinginan untuk mewujudkan harapan yang tersulam dari lambang-lambang yang digunakan dalam setiap tahapannya. Semoga kalian punya kewajiban untuk ikut melestarikan budaya bangsa."

Vendors you may like