Blog / Relationship Tips / 7 Cara Hadapi Ibu (Mertua) yang Suka Ikut Campur

7 Cara Hadapi Ibu (Mertua) yang Suka Ikut Campur

Color:
Add To Board
7-cara-hadapi-ibu-mertua-yang-suka-ikut-campur-1

Idealnya, saat resmi menjadi suami-istri segala keputusan rumah tangga diambil berdasarkan kesepakatan antara Anda dan pasangan. Tapi terkadang cerita rumah tangga tidak selalu berjalan ideal, apalagi kalau menyangkut keterlibatan ibu (atau ibu mertua). Apalagi jika ibu Anda atau ibu mertua memiliki karakter yang punya "suara kuat" dalam menyampaikan pendapat sehingga terkesan harus diikuti. Ini tentu menjadi sulit dalam proses mengambil keputusan, karena Anda dan pasangan berada di posisi "terjepit", menuruti ibu atau pasangan?

Alhasil ibu atau ibu mertua yang punya intensi kuat untuk mencampuri setiap proses mengambil keputusan bisa membuat hubungan Anda dan pasangan jadi tegang. Maka timbullah pertanyaan, lalu bagaimana dong menghadapi ibu atau ibu mertua yang suka ikut campur? Pertama, tenangkan diri. Kedua, baca artikel ini sampai selesai karena Bridestory kumpulkan 7 cara menghadapi situasi "terjepit" ketika ibu atau ibu mertua ikut campur.

  1. Kenali latar belakang yang membuat ibu selalu ingin ikut campur.
    Pasti Anda atau pasangan merasa kesal karena ada pihak ketiga yang ikut campur dalam proses mengambil keputusan rumah tangga. Meski ibu adalah orang tua, tapi ia tetaplah "orang ketiga" jika terlalu mencampuri urusan rumah tangga anaknya. Yang sering kali diabaikan ketika ibu ikut campur adalah mengenali apa yang membuat mereka begitu. Sering kali yang mendorong ibu menjadi "orang ketiga" dalam rumah tangga anaknya adalah mereka merasa tidak lagi dibutuhkan atau diandalkan sebagai orang tua. Ia merasa ketika anak-anaknya berumah tangga, perannya dalam kehidupan anaknya semakin tidak ada. Meski reaksi ini terasa begitu mengganggu atau bahkan menyebalkan, tapi coba pahami bahwa reaksi ini muncul dari inisiatif ibu yang selalu ingin melindungi anaknya. Artinya intensi ibu untuk bersuara adalah untuk melindungi anak-anaknya.

  2. Pilih waktu yang tepat untuk berbicara dengan ibu.
    Memang niat baik ibu tidak selamanya selaras dengan kebutuhan anak, karena itu memang harus disampaikan dengan baik agar ibu mengerti bahwa keputusan rumah tangga anaknya bukan lagi tanggung jawab mereka. Namun agar proses membicarakan dengan ibu berjalan baik, kuncinya adalah memilih waktu yang tepat. Kapankah waktu yang tepat untuk membicarakannya kepada ibu? Yang pasti jangan ketika mood ibu sedang tidak baik, atau saat ia sedang mengerjakan banyak hal. Situasi ini tidak akan membuat ibu menerima pesan Anda secara objektif, alhasil ia akan menjadi reaktif dan yang terjadi selanjutnya hanya "debat kusir". Bagi ibu topik yang akan kita bicarakan kepadanya adalah hal yang sensitif, jadi cobalah set suasana yang nyaman. Misalnya ajak ibu minum kopi di kafe atau makan siang di luar hanya berdua. Jika suasana dan waktunya tepat, maka sampaikanlah kepada ibu dengan tenang. Sehingga ibu melihat bahwa meski ia tidak dilibatkan dalam urusan rumah tangga anaknya, bukan berarti ia dilupakan.

  3. Gunakanlah kata-kata yang tepat.
    Selalu awali dengan bagaimana Anda selalu mengapresiasi setiap perhatian dan niatnya untuk selalu memastikan anak-anaknya dalam keadaan baik serta aman. Sampaikanlah seperti ini, "Ibu, aku tahu sekali kalau niat ibu selalu baik yaitu membantu kami, anak-anak ibu agar bisa memutuskan yang terbaik untuk keluarga kami. Aku sangat menghargai niat baik Ibu ini. Tapi Ibu juga harus percaya kepada kami berdua, bahwa cara yang kami pilih untuk menghadapi apapun dalam rumah tangga adalah usaha terbaik kami. Jadi ibu harus percaya kalau kami bisa membangun rumah tangga yang baik bersama."

  4. Gunakanlah intonasi suara dan bahasa tubuh yang bersahabat.
    Usahakanlah untuk selalu tenang ketika berbicara kepada orang tua. Intonasi suara dan bahasa tubuh yang tenang akan menyakinkan ibu bahwa Anda memang mampu mengambil keputusan untuk keluarga yang tengah dibangun. Bahkan bahasa tubuh seperti mengusap tangan ibu saat berbicara atau memeluknya erat setelah selesai berbicara akan membuatnya semakin yakin kalau dirinya tidak diabaikan. Intonasi suara dan bahasa tubuh yang bersahabat menjadi penguat pesan bahwa Anda akan selalu mencintainya serta mengapresiasi setiap hal yang dilakukan ibu dalam kehidupan Anda. Alhasil, ibu percaya meski ia tidak melakukan banyak hal tapi ia berperan besar dalam membentuk anak yang siap membangun rumah tangga.

  5. Jangan bertele-tele.
    Sampaikan dengan bahasa yang sederhana dan fokus pada pesan utamanya. Karena kalau Anda berbicara panjang lebar atau terlalu bertele-tele, maka ibu akan merasa seperti sedang "dikuliahi" oleh anaknya. Situasi ini yang sering kali membuat ibu menjadi reaktif dan situasi semakin tegang.

  6. Tetap sabar.
    Terkadang tidak dalam sekali percakapan, maka situasi akan berubah seperti yang Anda harapkan. Meskipun Anda sudah berbicara dengan tenang dan dengan penyampaian yang diplomatis, ibu tetap saja bereaksi defensif. Jika situasi ini yang terjadi, tetap sampaikan kepada ibu kalau Anda berterima kasih dan selalu menyayanginya. "Terima kasih ya, bu, selalu ingin membantu aku. Aku selalu sayang sama ibu."

  7. Libatkan pasangan.
    Jika yang dihadapi adalah ibu mertua, maka libatkanlah pasangan dalam ketika berbicara dengan ibu mertua. Karena sebagai anaknya, pasangan lebih mengerti memilih waktu yang tepat untuk berbicara kepada ibu dan gaya bicara seperti apa yang bisa membuat ibu mertua tidak tersinggung. Yang perlu Anda sampaikan kepada ibu mertua adalah, kehadiran Anda dalam kehidupan anaknya tidak akan menggantikan peran ibu mertua.

    Pada dasarnya setiap ibu selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Dalam persepsinya memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya adalah dengan terlibat aktif dalam setiap proses kehidupan anaknya, mulai dari kecil hingga dia dewasa. Jadi untuk tetap membuat ibu terlibat dalam proses kehidupan Anda dan pasangan, sesekali tak ada salahnya untuk meminta tips dari ibu. Misalnya bagaimana dia bisa mengatur kebutuhan rumah tangga dengan pekerjaan, atau apa yang dilakukan untuk tetap memenuhi aktualisasi diri sambil memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Dengan begini, ibu meyakini Anda dan pasangan tetap menghargai pendapatnya. Inilah yang akan membuat hubungan Anda, pasangan dengan ibu atau ibu mertua semakin berjalan ideal karena saling menghargai peran masing-masing.

Vendors you may like

Instagram Bridestory

Follow @thebridestory on Instagram for more wedding inspirations

Visit Now
Visit Now