Blog / Wedding Ideas / Ukiran Doa dan Harapan untuk Calon Pengantin di Malam Mappacci, Prosesi Pernikahan Adat Bugis

Ukiran Doa dan Harapan untuk Calon Pengantin di Malam Mappacci, Prosesi Pernikahan Adat Bugis

Warna:
Tambahkan ke Board
ukiran-doa-dan-harapan-untuk-calon-pengantin-di-malam-mappacci-prosesi-pernikahan-adat-bugis-1

Setiap pengantin berdarah Bugis diwajibkan melaksanakan ritual malam mappacci dalam rangkaian pernikahan adat mereka. Upacara adat ini bertujuan untuk membersihkan calon pengantin dari hal-hal buruk, karena itu perlu dilakukan penyucian kepada calon pengantin pria dan wanita.

Ukiran Doa dan Harapan untuk Calon Pengantin di Malam Mappacci, Prosesi Pernikahan Adat Bugis Image 1

Keluarga besar adalah unsur penting dalam pelaksanaan malam Mappacci.

Jika ditelisik dari asal katanya, mappacci sebenarnya adalah nama daun pacar atau dalam bahasa Bugis disebut pacci. Sedangkan paccing dalam bahasa Bugis berarti bersih. Inilah yang kemudian menjadi dasar atas makna mappacci sebagai ritual membersihkan yang dilakukan oleh kedua belah pihak pengantin, baik pria maupun wanita.

Dalam pelaksanaannya, mappacci melibatkan seluruh keluarga besar dari kedua calon pengantin. Lazimnya melibatkan sembilan pasang sesepuh atau duakkesera yang berasal dari keluarga ayah dan ibu, termasuk ayah dan ibu sendiri. Tapi bisa juga hanya melibatkan duappitu atau tujuh pasang sesepuh dari keluarga ayah dan ibu, termasuk ayah dan ibu sendiri. Menghadirkan keluarga besar bertujuan untuk membekali calon pengantin dengan restu dan teladan agar mampu menjalani peran suami-istri yang mendatangkan keberkahan dari Sang Maha Kasih. Dulu ritual ini hanya dilaksanakan oleh kaum bangsawan, tapi sekarang semua kalangan masyarakat Bugis melakukannya.

Lalu bagaimanakah ritual malam mappacci ini dilakukan? Secara simbolik, ritual ini sebenarnya adalah mengaplikasikan daun pacar atau pacci pada calon pengantin yang dilakukan pada malam hari, sebelum akad nikah dilangsungkan. Mengapa sebelum akad nikah? Ini menjadi simbol bahwa calon pengantin sudah siap secara lahir dan batin, dengan niat yang tulus suci, menjalani pernikahan. Dalam bahasa Bugis, pembersihan ini meliputi mappaccing ati (bersih hati) , mappaccing nawa-nawa (bersih pikiran), mappacinng pangkaukeng (bersih perbuatan) dan mappacing ateka (bersih itikad atau niat).

Sebelum ritual mengusapkan daun pacci di telapak tangan pengantin dilakukan, haruslah diawali dengan malekke pacci atau prosesi pengambilan daun pacar. Prosesinya bisa dilakukan di rumah pemangku adat. Ketika pengambilan daun pacar dilakukan harus dengan memakai pakaian adat lengkap dengan iring-iringan yang lengkap juga, yaitu pembawa tombak, pembawa tempat sirih, pembawa bosara yang isinya kue-kue dan peralatan minuman, pembawa tempat paccing, pembawa alat bunyi-bunyian seperti gendang dan gong.

Lalu setelah ritual pengambilan daun pacar, dilanjutkan dengan malam mappacing. Calon pengantin akan duduk di atas lamming atau tempat pengantin. Lalu satu persatu orang yang ditunjuk akan mengusap daun pacci pada telapak tangan pengantin seraya melantunkan doa dan harapan untuk calon pengantin. Adapun mereka yang terpilih melakukan ini adalah para sesepuh atau orang yang memiliki rumah tangga yang bahagia. Sehingga dengan demikian, diharapkan calon pengantin bisa meneladani serta memiliki kehidupan rumah tangga yang bahagia. Setelah itu disambung dengan berzikir dan membaca shalawat Nabi Muhammad SAW.

Ukiran Doa dan Harapan untuk Calon Pengantin di Malam Mappacci, Prosesi Pernikahan Adat Bugis Image 2Ukiran Doa dan Harapan untuk Calon Pengantin di Malam Mappacci, Prosesi Pernikahan Adat Bugis Image 3

Inilah 9 peralatan yang wajib disediakan pada ritual malam mappacci.

Pada prosesi yang sama, calon pengantin pria akan diantar ke rumah calon pengantin wanita. Hanya saja calon pengantin pria hanya dapat melihat dari jauh bagaimana prosesi mappacci ini berlangsung. Selain unsur kehadiran orang-orang yang dihormati untuk menorehkan daun pacci ke telapak tangan calon pengantin, ritual ini juga mewajibkan adanya 9 peralatan selama ritual berlangsung. Kesembilan alat ini memiliki maknanya masing-masing, yaitu:

  1. Bantal: Ini adalah lambang kemakmuran karena terbuat dari kapas dan kapuk. Dalam bahasa Bugis, kapas dan kapuk disebut aselewanangeng yang dikumpulkan satu per satu sebagai alas kepala. Kepala sendiri adalah bagian tubuh yang paling mulia, itu mengapa kemuliaan serta kebaikan seseorang bisa terlihat dari wajahnya. Maka secara filosofi, bantal adalah lambang kehormatan, kemuliaan serta martabat calon pengantin.
  2. Tujuh lembar sarung sutera: Fungsi dari sarung adalah untuk menutupi tubuh kita agar tidak merasa malu. Dalam bahasa Bugis, sarung disebut pangkep mallosu-losu yang juga dimaknai sebagai pelindung harga diri serta moral. Artinya, calon pengantin diharapkan selalu bisa menjaga harga dirinya. Tak hanya itu, saat menenun sarung dibutuhkan kesabaran, ketekunan serta keterampilan. Maka ini bermakna, khususnya untuk calon pengantin pria, untuk memilih calon pendamping hidupnya dilihat dari hasil tenunannya yang rapi serta halus.
  3. Daun pucuk pisang: Daun pucuk pisang ini akan diletakkan di atas sarung sutera. Mengapa? Salah satu sifat dari pisang adalah tidak akan layu sebelum ada tunas baru. Ditambah pohon pisang sendiri sangat bermanfaat bagi banyak orang. Maka meletakkan daun pucuk pisang di atas sarung sutera bermakna agar calon pengantin tidak hanya bertekun dan terampil membina rumah tangganya tapi juga memberikan manfaat bagi banyak orang. Daun pucuk pisang juga menyemangati calon pengantin untuk menghasilkan keturunan yang baik serta serta tidak pernah putus asa untuk mewujudkan mimpi pernikahan bersama.
  4. Daun Nangka: Daun ini berfungsi untuk menaruh pacci yang dalam bahasa Bugis adalah appaccingeng yang makna filosofinya adalah kesatuan jiwa dan kerukunan hidup dalam berumah tangga. Bagaimana agar ini dapat terwujud, tentu dengan berpegang pada kejujuran dan kebersihan hati.
  5. Daun pacci atau pacar: Daun ini akan ditumbuk halus dan merupakan simbol kebersihan serta kesucian dalam budaya Bugis. Diusapkannya daun pacci pada telapak tangan calon pengantin bermakna agar mendasari pernikahan dengan kesucian hati.
  6. Beras melati atau benno: Beras menyimpan makna filosofi agar calon pengantin bisa berkembang baik dan mandiri dalam membangun rumah tangganya. Adapun pondasi dari rumah tangga yang baik dan mandiri adalah kedamaian, cinta kasih, dan kesejahteraan. Beras akan diletakkan berdekatan dengan lili dan daun pacci.
  7. Lilin: Ini adalah simbol pemberi sinar pada setiap langkah yang akan ditempuh dalam pernikahan. Maka calon pengantin hendaknya melandaskan setiap langkah serta keputusan dalam berumah tangga pada ajaran agama dan petunjuk Tuhan yang Maha Esa. Dahulu sebelum ditemukannya lilin, digunakan madu yang berasal dari lebah untuk menjadi lilin. Madu ini sendiri dikaitkan dengan fungsinya sebagai obat dan pemberi rasa manis. Maka diharapkan, calon pengantin selalu menjalanin pernikahannya dengan kebersamaan dan keharmonisan.
  8. Wadah pacci: Wadah ini biasanya terbuat dari logam yang dalam bahasa Bugis disebut capparu atau bekkeng. Ini adalah perlambang dua insan yang menyatu dalam jalinan cinta yang suci. Harapannya kelak calon pengantin bisa menjadi pasangan suami-istri yang saling berkasih sayang dan seia sekata.
  9. Gula merah dan kelapa: Masyarakat Bugis kerap menikmati kelapa muda dengan gula merah. Keduanya melambangkan rasa nikmat. Artinya kedua calon pengantin hendaknya bisa saling melengkapi untuk membangun rumah tangga yang penuh keharmonisan.

Vendor yang mungkin anda suka