Tanda-tanda KDRT dan Kiat Singkat Untuk Mengatasinya

oleh Belle Biarezky [[ 1556071200000 | amDateFormat:'ll | HH:mm' ]] di Tip Hubungan 

Warna:

Tahukah Anda jika kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) masuk ke dalam 10 besar faktor penyebab perceraian di Indonesia*? Walaupun data menunjukkan jika istri menjadi pihak yang lebih banyak menggugat karena mereka adalah korban, KDRT yang menimpa suami juga tidak jarang terjadi.

Kekerasan umumnya dipicu oleh konflik yang tidak sehat. Konflik sendiri memang sebenarnya wajar dalam pernikahan. Namun, tidak jarang konflik melibatkan emosi sehingga seseorang tidak mampu mengontrol sikapnya kepada pasangannya baik secara fisik maupun psikis. Rini Hapsari Santosa, psikolog dari Enlightmind, membocorkan berbagai pertanda konflik pernikahan yang tidak sehat:

Terjadi kekerasan, baik secara fisik, verbal, psikologis, seksual, maupun ekonomi
Suatu tingkah laku dapat dikategorikan sebagai kekerasan jika menyebabkan perasaan terancam, dipermalukan, disakiti, diabaikan, dieksploitasi, diisolasi, dan tidak berdaya. Pola individu dalam berelasi memang merupakan akumulasi dari berbagai pengalaman hidup yang sudah dijalani, namun kondisi ini kadang tidak disadari oleh pasangan. Oleh karena itu, dalam banyak kasus KDRT, butuh waktu lama (bertahun-tahun bahkan puluhan tahun) bagi pasangan untuk menyadari bahwa terdapat pola kekerasan di dalam hubungan mereka.

Pasangan tidak lagi berkomunikasi
Interaksi di antara pasangan sangat terbatas, hampir tidak memiliki kesempatan untuk berinteraksi / berkomunikasi karena keduanya sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Atau, suami maupun istri cenderung menghindar dari situasi konflik, misalnya dengan cara tidak menanggapi, menghentikan pembicaraan, pergi dari rumah, mengurung diri, maupun melibatkan / meminta orang lain untuk "menyelesaikan" masalah. Komunikasi yang tidak sehat ini juga bisa berujung pada kekerasan psikis di mana pasangan berkomunikasi dengan intensi menyerang atau merendahkan lawan bicara, dibandingkan memahami dan berorientasi untuk menyelesaikan konflik.

Untuk menghindari benih-benih konflik kekerasan seperti di atas, Rini kembali membagikan kiat-kiat yang bisa diterapkan di dalam rumah tangga:

Sediakan waktu untuk diri sendiri
Kondisi fisik dan mental yang sehat dan seimbang pastinya mendukung pasangan untuk mengembangkan pola komunikasi yang lebih efektif.

Kenali sumber konflik / isu yang sering muncul
Minimaliskan intervensi dari luar atau pihak ketiga, misalnya orang tua atau teman. Beri kesempatan bagi diri sendiri dan pasangan untuk mengekspresikan diri, menganalisis situasi, dan mencari solusi secara independen.

Pilih kata yang netral
Hindari kalimat yang mengarah pada penilaian (judgment) kepada pasangan, seperti "Kamu itu tidak peka ya" atau "Kamu tidak pernah mau mendengarkan aku".

Gunakan kata ganti pertama
Pilih kata ganti "saya" atau "aku" untuk menunjuk ke diri sendiri saat ingin menyampaikan pendapat. Contoh : "Aku kecewa saat..." daripada "Kamu itu selalu..."

Berkomunikasi secara terbuka
Mulai dari kegiatan sehari-hari sampai pada hal yang lebih mendalam, sediakan waktu untuk hal tersebut dan biasakan untuk menanyakan dan menyampaikan perasaan kepada pasangan, hingga mengekspresikan rasa sayang dan perhatian dalam keseharian.

*) Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung

  • Tanda-tanda KDRT Dan Kiat Singkat Untuk Mengatasinya - 001

Jika seseorang yang Anda kenal, atau bahkan Anda sendiri, mengalami tanda-tanda KDRT, segera hubungi lembaga pengaduan setempat.


Kirim Komentar Anda

BACA [[ blogCommentsCtrl.commentsCount ]] Komentar

[[ comment.createdAt | amDateFormat : 'll | HH:mm' ]]

[[ comment.account.data.accountable.data.displayName ]] [[ comment.account.data.accountable.data.displayName ]]

[[ comment.content ]]