Blog / Relationship Tips / Makna Pernikahan Bagi Generasi Milenial

Makna Pernikahan Bagi Generasi Milenial

Warna:
Tambahkan ke Board
makna-pernikahan-bagi-generasi-milenial-1

Jika bertanya kepada generasi milenial tentang pernikahan, sebagian besar akan menjawabnya sebagai pilihan bukan tahapan kehidupan. Inilah yang kemudian membuat banyak milenial meyakini pilihan menikah adalah personal dan butuh banyak persiapan karena merupakan komitmen seumur hidup. Pilihan personal ini kemudian diekspresikan dalam perayaan resepsi pernikahan yang sangat pribadi, esensial dan penuh rasa kebersamaan.

Generasi milenial tidak ingin cepat menikah.

Secara definisi, generasi milenial adalah mereka yang lahir dalam rentang tahun 1980 sampai dengan 1990. Belajar dari generasi sebelumnya, yaitu silent generation yang lahir di masa kekacauan ekonomi global pada rentang tahun 1925-1945, yang melihat pernikahan sebagai perjalanan hidup yang harus dilalui, maka generasi milenial meyakini pernikahan bukanlah pilihan wajib semua orang. Ini mengapa bagi generasi milenial, pilihannya adalah menikah atau tidak menikah.

Bagi milenial yang memilih menikah, keputusan ini diambil ketika mereka sudah benar-benar siap untuk berkomitmen. Maka banyak diantara milenial yang kemudian memutuskan menikah pada jenjang usia yang cukup matang. Data di Amerika Serikat, disebutkan usia rata-rata generasi milenial menikah adalah 30 tahun untuk laki-laki dan 28 tahun untuk perempuan. Bahkan Urban Institute menyebutkan banyak milenial yang belum menikah meski usia mereka sudah memasuki 40 tahun. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Kondisinya tidak jauh berbeda. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Adilah Nurviana dan Wiwin Hendriani dari Fakultas Psikologi Universitas Airlangga menyebutkan, 63,3% milenial memilih untuk menunda pernikahan dan 36,7% memilih untuk tidak menikah. Penelitian yang dipublikasi pada Buletin Riset Psikologi dan Kesehatan Mental ini juga menyebutkan alasan bagi milenial yang memilih untuk menunda pernikahan adalah harus dilakukan dengan pasangan yang dewasa karena harus membesarkan anak dalam lingkungan yang kondusif. Tidak melakukan pernikahan karena tekanan orang lain. Maka, konsep ideal pernikahan bagi generasi milenial adalah, dilakukan oleh mereka yang sudah siap secara fisik, mental serta finansial.

Konsep ideal pernikahan membuat resepsi pernikahan jadi lebih personal.

Konsep ideal tentang pernikahan tersebut membuat generasi milenial lebih menyukai perayaan resepsi pernikahan yang personal. Riset Wedding Wire's 2019 bahkan menegaskan, generasi milenial cukup berhasil dalam merevolusi makna resepsi pernikahan dari yang dirayakan dengan mengundang banyak orang menjadi perayaan sederhana dan mengundang hanya keluarga inti serta sahabat. Alhasil semua keseluruhan tema adalah cerita tentang perjalanan cinta kedua pengantin. Riset ini sampai menyebut generasi milenial cukup berhasil melakukan revolusi dalam resepsi pernikahan.

Karena ingin menciptakan resepsi pernikahan yang personalized dan intimate, maka para milenial akan sangat menyiapkan semuanya secara detail mulai dari pakaian, tempat, moodboard, dekorasi, makeup, suvenir, sampai makanan dibuat bisa menciptakan suasana yang berkesan baik. Pengantin milenial menginginkan aura kebahagiaan mereka bisa dirasakan secara personal kepada semua tamu yang hadir.

Untuk menciptakan resepsi pernikahan yang ideal tersebut, para pengantin milenial sangat bergantung pada aplikasi daring sebagai alat bantu. Riset yang sama juga menyebutkan 80% pengantin milenial menghabiskan waktu mereka berselancar di dunia maya untuk mewujudkan resepsi pernikahan impian. Tak hanya itu, mereka juga suka berbagi pengalaman tentang persiapan pernikahan. Ini mengapa, hampir 15% pengantin milenial membuat website khusus untuk pernikahan mereka. Menariknya lagi, sejak 2015 juga terjadi tren menggunakan tagar khusus yang berkaitan dengan resepsi pernikahan mereka, seiring dengan masifnya penggunaan media sosial.

Dan karena kebanyakan milenial menikah di usia yang cukup matang, urusan latar belakang budaya pengantin pun menjadi lebih beragam. Ini terjadi karena para milenial lebih banyak berpetualang sebelum menikah, baik untuk dorongan pendidikan maupun karier. Inilah yang kemudian membuat mereka bertemu lebih banyak orang dari beragam agama, budaya dan negara. Alhasil, pernikahannya pun menjadi lebih multikultural.

Meski para milenial membuat resepsi pernikahan terkesan modern, tapi bagi mereka pernikahan tetaplah perjalanan yang sakral. Karena itu butuh komitmen yang kuat untuk menjalaninya.

Vendor yang mungkin anda suka