Blog / Relationship Tips / Makna dan Tujuan dalam Pernikahan Kristen

Makna dan Tujuan dalam Pernikahan Kristen

Warna:
Tambahkan ke Board
makna-dan-tujuan-dalam-pernikahan-kristen-1

Tak hanya merencanakan pernikahan, sangat baik apabila pasangan pun mempersiapkan diri secara batin dan mental sebelum memasuki rumah tangga. Terlebih, memastikan bahwa tujuan menikah dan visi untuk menjalankan rumah tangga bersama sudah benar. Simak bincang-bincang kami bersama Ps. Boris Manurung dan Meilita Kitting, suami-istri, Group Leader dan Counselor untuk Married for Life International Ministry.

Q: Menurut Alkitab, sebenarnya apa tujuan dari pernikahan?

A: Sebuah kutipan dari Gary Thomas, penulis buku Sacred Marriage menyimpulkannya dengan sangat bagus. "Pernikahan pada dasarnya memiliki tujuan yang sama – untuk bertumbuh dalam saling melayani, ketaatan, karakter, pengenalan dan kasih pada Tuhan. Lebih dari sekadar membuat bahagia, Tuhan merancang pernikahan untuk menguduskan pasangan." Dijabarkan lebih lanjut, berikut ini adalah tujuan dari pernikahan Kristen serta ayat-ayat Alkitab yang mendukungnya.

  • Pernikahan menggenapi rencana Tuhan, yaitu kesatuan.
    Dalam Kitab Kejadian pasal 2, Adam dan Hawa diciptakan untuk bersatu. Pemahaman hubungan yang satu daging ini dijabarkan lebih lanjut di Kejadian pasal 1 dan 2. Adam diciptakan menurut gambar Allah, menjadikannya manusia yang lengkap dan sempurna. Dan dari Adam, dibentuklah Hawa dari tulang rusuknya. Mungkin kalau digambarkan, seperti telur dan kuning telur. Terpisah, namun merupakan sebuah kesatuan.
  • Pernikahan menghasilkan generasi ilahi.
    Maleakhi 2:15 - Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap istri dari masa mudanya.
    Bukan sekadar memiliki anak, pernikahan yang kudus akan menghasilkan generasi ilahi, yang memenuhi rencana Sang Pencipta.
  • Kesatuan yang menghasilkan perlindungan dan kebahagiaan.
    Dalam Efesus 5:22-30 perikopnya berjudul, "Kasih Kristus adalah Dasar Hidup Suami Istri"

    "Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. Demikian juga suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatnya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya."

    Dari perikop singkat ini dapat dilihat bahwa, desain awal dari pernikahan adalah untuk saling menguduskan antara suami dengan istri, juga keturunan mereka nantinya, perlindungan bagi seluruh keluarga. Tak hanya itu, bila dijalani dengan penuh kasih, maka kesatuan ini akan menghasilkan persahabatan, sinergi, dan juga kenikmatan pada kedua pihak.

Q: Lalu, apakah tujuan ini pasti sama untuk setiap pasangan?

A: Pada dasarnya, semua pernikahan memiliki tujuan yang sama. Yang membuat berbeda adalah iman serta visi dalam keluarga tersebut. Lalu, bagaimana cara visi tersebut didapatkan? Dengan pergumulan dalam doa, karena setiap keluarga memiliki visinya masing-masing. Bicara tentang doa, dalam sebuah pernikahan, doa adalah elemen yang sangat penting. Penting sekali memiliki waktu doa pribadi untuk membangun keintiman dengan Tuhan, berdoa dengan pasangan untuk saling melindungi dan saling melengkapi, dan juga berdoa bersama anak-anak untuk kesatuan keluarga yang kuat. Ketiganya penting dan harus ada dalam sebuah pernikahan.

Makna dan Tujuan dalam Pernikahan Kristen Image 1
Fotografi oleh Davy Linggar Photography

Q: Kesalahan pemahaman apa yang biasanya dibuat pasangan dalam tujuan menikah dan memasuki pernikahan?

A: Menurut pengalaman, paling sering, menikah hanya karena nafsu atau desakan sosial dan keluarga. Ada juga yang karena kesepian dan juga hanya karena ingin punya anak. Khususnya yang terakhir, begitu ternyata sulit memiliki keturunan dalam pernikahan, akhirnya memutuskan untuk bercerai. Ada pula yang akhirnya terlalu "mendewakan" anak dan tidak memperhatikan pasangan. Semuanya karena tidak mengerti tujuan sebenarnya dalam pernikahan.

Q: Kemudian, bagaimana agar pasangan dapat terhindar dari melakukan kesalahan-kesalahan tersebut?

A: Ada 3 hal. Pertama, hubungan masing-masing pribadi dengan Tuhan harus baik. Bangun komunikasi dengan Tuhan dan pastikan tidak ada masalah masa lalu yang belum diselesaikan. Misalnya, belum mengampuni pasangan masa lalu atau lainnya. Yang kedua, hati harus siap "meninggalkan" keluarga masing-masing dan juga harus siap berkomitmen tidak memiliki hubungan dekat dengan lawan jenis lain. Dan ketiga, hati yang mau mengerti dan siap menjalani peran suami dan istri di dalam Tuhan dan juga nantinya, sebagai orangtua.

Apakah peran suami? Memberi perlindungan, memimpin, menjadi penyedia, menjadi teladan hati Tuhan dalam mengasihi istrinya, menjadi kekasih dan pembela, menjadi teladan kedaulatan Tuhan, pendoa yang berperang. Sedangkan peran istri adalah: penolong, pemberi dukungan, pengelola, cerminan kasih Tuhan, kekasih dan pendaming, cerminan kreativitas Tuhan, menjadi pendoa yang menjaga. Kedua ini harus dilakukan bersamaan, seperti quote dari Gary Thomas: The church must not teach the submission of wives apart from the sacrificial love and servanthood required from husbands.

Selain ketiga hal tersebut, masing-masing pasangan harus yakin akan hubungan tersebut karena sudah mendapatkan konfirmasi dari Tuhan. Bagaimana bentuk konfirmasi? Bisa saja dalam hal yang sudah terlihat jelas, misalkan pasangan seiman, orang tua sudah merestui, tidak ada perbedaan yang prinsipil, dan lain sebagainya. Karena bisa saja pasangan sepertinya sudah memenuhi semua kriteria, tapi hati merasa tidak yakin. Nah di saat ini, carilah konfirmasi dan jawaban dengan lebih detail.

Q: Jika dimulai dan dijalani dengan benar, maka janji-janji apa yang akan diterima pasangan dalam pernikahan?

A: Baik suami maupun istri akan bertumbuh dalam Tuhan dan juga semakin saling mengerti dan melengkapi. Apa artinya bertumbuh? Keduanya akan memasuki sebuah transformasi, masing-masing akan diubahkan semakin menjadi seperti Kristus. Kebahagiaan yang dirasakan bukanlah hanya sekadar karena pernikahan, tetapi karena sukacita di dalam Tuhan. Kehidupan suami dan istri akan menjadi dampak dan berbuah, juga disertai keintiman dalam pernikahan tersebut. Dan juga, keturunan yang akan hidup dan berjalan sesuai kehendak Tuhan.

Makna dan Tujuan dalam Pernikahan Kristen Image 2

Q: Setelah menikah, hal penting apa yang harus diingat oleh para pasangan dalam menjalani kehidupan bersama?

A: Pernikahan adalah sebuah perjanjian yang mengikat (covenant) bukan kontrak. Artinya, tidak dapat dibatalkan, tidak ada pilihan bercerai apapun alasannya. Pemegang perjanjian ini ada 3 pihak, suami, istri, dan Tuhan. Jika suami atau istri gagal menjaga perjanjian, perjanjian tetaplah berjalan karena Tuhan tetap menjaga perjanjian itu. Lalu bagaimana jika suami atau istri sudah melakukan kesalahan berat, yang membuat pihak lainnya sulit menjaga pernjanjian tersebut? Di sinilah dibutuhkan visi iman, yaitu melihat pasangan (dan anak nantinya) bukan dengan mata jasmani saja tetapi dengan mata Tuhan. Artinya, harus mengikuti teladan Tuhan bagaimana Ia mengasihi pasangan dan anak-anak. Selain itu, praktekanlah pengampunan. Pernikahan adalah tempat untuk mempraktikkan kuasa pengampunan karena pengampunan adalah elemen kritikal dalam pernikahan.

Dalam kehidupan sehari-hari, covenant pun harus dicerminkan dalam kesepakatan suami istri dalam segala hal. Sepakat dalam hal apa? Secara rohani dalam doa, secara fisik dalam hubungan intim. Kesepakatan yang benar adalah, saat keduanya yakin akan apa yang menjadi kehendak Tuhan.

Pertanyaan intinya adalah: Apakah kita akan memandang pernikahan menurut perspektif Tuhan atau manusia? Jika berdasarkan perspektif manusia, pernikahan akan dipertahankan selama kenyamanan, keinginan, dan ekspektasi kita terpenuhi. Sementara dalam perspektif Tuhan, kita harus menjaga pernikahan karena pernikahan tersebut membawa kemuliaan bagi Tuhan dan memberikan contoh kasih Tuhan untuk dunia yang penuh dosa. -Gary L. Thomas, Sacred Marriage-

Vendor yang mungkin anda suka

Instagram Bridestory

Ikuti akun Instagram @thebridestory untuk beragam inspirasi pernikahan

Kunjungi Sekarang
Kunjungi Sekarang