Kenali Keistimewaan Makna Paes, Riasan Pengantin Wanita dari Jawa Tengah

oleh Belle Biarezky [[ 1567130400000 | amDateFormat:'ll | HH:mm' ]] di Ide Pernikahan 

Warna:


  • Kenali Keistimewaan Makna Paes, Riasan Pengantin Wanita Dari Jawa Tengah - 001

Jika berbicara tentang pernikahan adat Jawa Tengah, tentu paes menjadi salah satu elemen krusial yang persiapannya tidak main-main. Paes adalah riasan untuk pengantin perempuan dari area dahi hingga rambut. Lekukan-lekukan paes pada dahi disebut cengkorongan. Yogyakarta dan Solo adalah dua daerah yang dikenal akan paesnya. Paes biasanya menggunakan pidih berwarna hitam, kecuali paes basahan Solo yang berwarna hijau.

Bridestory berbincang-bincang dengan Isti Rahayu, perias paes senior di Jakarta yang dikenal dengan nama Yayuk Paes. Isti Rahayu, yang biasa dipanggil Yayuk, mengungkapkan jika awalnya paes dibuat menggunakan pidih (sejenis lilin). Namun, kini perias modern, termasuk dirinya, lebih memilih menggunakan cairan eyeliner karena lebih aman pada kulit, terutama untuk kulit sensitif. Selain sisi teknis, Yayuk pun tidak segan menjelaskan pakem anatomi paes berikut maknanya. Nilai yang sarat filosofi ini sebenarnya merupakan sebuah gambaran dari pondasi pernikahan itu sendiri.


Gajahan/panunggul
Bentuk ini adalah lekukan paling lebar di bagian tengah yang menyerupai huruf U. Gajahan (paes Solo, gambar atas) atau panunggul (paes ageng) mengambil bentuk gunung dan melambangkan Trimurti (tiga kekuatan dewa tunggal). Bentuk ini mewakilkan sebuah harapan jika kehormatan dan derajat seorang perempuan akan ditinggikan ketika dia menikah.
Pada paes basahan dan paes putri Solo bentuk lekukan lebih besar, sedangkan pada paes ageng lebih ramping, dan pada paes putri Yogyakarta bahkan ujungnya lebih runcing.

Citak
Bentuk seperti berlian ini digambar di dahi dan di antara alis. Merefleksikan mata Dewa Siwa sebagai pusat ide dan pikiran, citak mewakilkan harapan pengantin perempuan yang cerdas, cemerlang, dan berakhlak baik. Citak diaplikasikan pada semua jenis paes, kecuali paes putri Solo.

Pengapit
Di samping kiri dan kanan gajahan terdapat dua buah bentuk lekukan yang runcing. Disebut pengapit, bentuk ini diibaratkan sebagai pengendali gajahan. Artinya, walaupun dalam rumah tangga banyak rintangan, pengantin diharapkan selalu berjalan lurus sesuai tujuannya yang mulia.

Penitis
Di sebelah pengapit terdapat penitis. Lekukan yang tidak runcing dan tidak sebesar gajahan ini melambangkan bahwa segala sesuai harus memiliki tujuan dan dijalankan secara efektif, termasuk urusan mengelola keuangan keluarga.

Godheg
Di dekat telinga, pengantin akan dibubuhi lekukan kecil yang disebut godgeh. Melambangkan kebijaksanaan, godheg merupakan sebuah pengingat bagi calon pengantin untuk selalu intropeksi diri, serta sebuah doa agar pengantin diberi keturunan.


Pada paes ageng (gambar atas), setiap lekukan diisi dengan bentuk capung berwarna emas yang melambangkan harapan agar pengantin selalu ulet dalam menjalani hidup. Kemudian, garis emas yang membingkai warna hitam lekukan juga menjadi ciri khas dari paes ageng.

Berikut beberapa detail riasan pengantin Jawa yang tidak kalah pentingnya dengan makna paes:

Alis menjangan


Rusa, atau menjangan dalam Bahasa Jawa, menginspirasi riasan wajah pengantin dengan paes basahan dan paes ageng. Alis dirias menyerupai bentuk tanduk hewan ini melambangkan harapan agar kedua pengantin berlaku cerdik, cerdas, dan anggun, seperti karakter rusa, dalam menghadapi persoalan rumah tangga.

Sanggul bokor mengkurep


Pengantin Yogyakarta akan dipasangi sanggul bolor mengkurep yang kemudian dihiasi irisan daun pandan dan bunga melati. Tatanan rambut ini pun memancarkan keharuman sebagai pengharapan agar pengantin menjadi pribadi yang berguna dan membawa harus nama negerinya. Pada riasan paes ageng, tiga korsase berwana merah, kuning, dan biru (atau hijau), yang disebut jebehan, disematkan sebagai lambang Trimurti. Sedangkan untuk paes putri Yogyakarta, sanggul ditambahkan hiasan bunga di kanan dan kiri.

Sanggul bangun tulak


Sanggul untuk paes putri Solo dan paes basahan ini melambangkan sebuah penolak bala sehingga rumah tangga diharapkan jauh dari bahaya dan kesialan. Terkadang hiasan burung merak disematkan, serta ditambahkan sasakan sunggar di dekat telinga agar pengantin selalu menjadi pendengar yang baik.

Untaian gajah ngoling


Selain menggunakan sanggul bokor mengkurep, beberapa bagian rambut paes ageng dibiarkan menjuntai ke arah kanan sepanjang 40 cm dan dihiasi melati. Pada beberapa pengantin, untaian ini ditambahkan pandan dan hanya dibungkus melati, tanpa rambut. Untaian yang disebuh gajah ngoling ini memiliki arti kesucian dalam menjalani kehidupan rumah tangga yang sakral.

Untaian tibo dodo


Pada paes Solo, pengantin diberikan hiasan rambut yang dikenal dengan sebutan tibo dodo. Mirip seperti gajah ngoling, untaian ini terbuat dari ronce melati yang menjuntai dari kepala hingga pinggang pada paes putri Solo (gambar atas) dan sampai paha pada paes basahan. Pada ujung untaian, terpasang bunga cempaka yang masih kuncup.

Yayuk mengungkapkan pembuatan cengkorongan adalah salah satu bagian tersulit karena harus menyesuaikan bentuk kepala setiap pengantin sehingga lekukan-lekukannya proporsional. Sasakan sunggar juga harus dibuat dengan sangat rapi dan hati-hati. Karena membuat paes dibutuhkan ketelitian tinggi, pada umumnya riasan ini memakan waktu 1,5 jam.


Bagi Anda calon pengantin Jawa Tengah, segera cari perias paesmu di Bridestory!


KREDIT KE VENDOR:


Kirim Komentar Anda

BACA [[ blogCommentsCtrl.commentsCount ]] Komentar

[[ comment.createdAt | amDateFormat : 'll | HH:mm' ]]

[[ comment.account.data.accountable.data.displayName ]] [[ comment.account.data.accountable.data.displayName ]]

[[ comment.content ]]