14 Mahkota Adat Pernikahan Tradisional Indonesia

oleh Karina Leviani [[ 1494986400000 | amDateFormat:'ll | HH:mm' ]] di IDE PERNIKAHAN 

Warna:

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia dianugerahi dengan budaya yang beraneka ragam, di mana setiap daerah memiliki adat pernikahan yang berbeda. Pernikahan tradisional Indonesia selalu meriah dan penuh warna, dihiasi oleh busana adat pengantin yang begitu cantik. Kali ini, kami menyoroti beberapa hiasan kepala serta mahkota pengantin yang memukau.

Meskipun seringkali berat dan sulit dikenakan, hiasan kepala tradisional menambahkan keanggunan tersendiri untuk sang pengantin. Makna simbolis yang terkandung pada tiap mahkota membuatnya lebih dari sekadar pemanis. Bahkan, mahkota adat seringkali merupakan elemen terpenting dalam setelan busana pengantin tradisional.

Lihat slideshow di bawah ini untuk melihat 14 mahkota pengantin tradisional Indonesia yang memesona.

  • Bali

    Pengantin Bali selalu terlihat meriah berkat busana yang terbuat dari kain prada berwarna cerah, dilengkapi dengan mahkota emas. Terinspirasi oleh budaya Kerajaan Badung, Ayu Thari mengenakan busana payas agung, lengkap dengan mahkota yang terbuat dari emas asli. “Beratnya sekitar 3 kilogram dan saya harus mengenakannya selama dua hari berturut-turut,” kenang sang pengantin. Namun, Ayu Thari terlihat begitu anggun mengenakan mahkota tersebut!

    Lihat foto lainnya di sini.

    Foto: Kamala Studio.

  • Betawi

    Lahir ketika kota Jakarta masih dikenal dengan nama Batavia, adat Betawi tergolong baru di Indonesia. Adat ini sangat kaya akan warna dan tradisi karena menggabungkan unsur budaya dari Cina, Arab, dan Belanda. Hiasan kepala pengantin yang bernuansa budaya Cina terdiri atas mahkota siangko kecil atau sisir galu yang dipasangkan dengan jepit berbentuk burung hong. Sedangkan, hiasan kepala yang menutupi dahi serta wajah sang pengantin disebut siangko besar, terinspirasi oleh cadar khas Arab.

    Lihat foto lainnya di sini.

    Foto: Fotologue Photo.

  • Gorontalo

    Meriah dan berwarna-warni, mahkota adat Gorontalo terdiri dari beberapa elemen. Ikat kepala baya lo boute melambangkan pengabdian sang pengantin pada tugasnya sebagai seorang istri. Berikutnya adalah tuhi-tuhi, tujuh hiasan kepala yang melambangkan kerajaan-kerajaan di Gorontalo. Terakhir, dipasanglah lai-lai yang terbuat dari bulu merah dan putih pada ubun-ubun sang pengantin sebagai lambang kesucian, kehormatan, dan keberanian.

    Lihat foto lainnya di sini.

    Foto: The Eternity.

  • Solo Putri dan Yogya Putri

    Walaupun terlihat mirip, paes Solo putri dan Yogya putri memiliki beberapa perbedaan. Sanggul pada riasan Yogyakarta lebih lebar di bagian bawah, sedangkan Solo kebalikannya. Paes Yogyakarta juga memiliki bentuk serta sudut yang lebih tajam. Keseluruhan tata rambut Solo putri dapat mencapai berat hingga 2 kilogram karena dihiasi oleh ronce melati panjang bernama tibo dodo dan sembilan buah cunduk mentul, tak seperti riasan Yogyakarta yang hanya memiliki tiga hingga lima.

    Lihat foto lainnya di sini dan di sini.

    Foto: Iluminen dan Antijitters Photo.

  • Paes Ageng Yogyakarta

    Terinspirasi oleh kaum ningrat keraton Yogyakarta, paes ageng memiliki ciri khas riasan hitam yang ditambahkan dengan lapisan prada. Pada kedua sisi kepala pengantin, centhung dipasang sebagai lambang kesiapannya dalam memasuki jenjang kehidupan baru. Kepala sang pengantin dimahkotai dengan gunungan yang melambangkan penghormatan suami akan istrinya. Seperti pada riasan Solo putri dan Yogya putri, cunduk mentul juga berjumlah ganjil. Secara keseluruhan, berat dari tata rambut ini dapat mencapai 1,5 kilogram.

    Lihat foto lainnya di sini.

    Foto: Welio Photography.

  • Mandailing

    Berbentuk seperti tanduk kerbau, mahkota cantik ini datang dari etnis Mandailing di Sumatra Utara. Bulang tradisional terbuat dari emas murni dan terdiri dari lima hingga tujuh lapis, tergantung status sosial sang mempelai. Agar sang pengantin tetap merasa nyaman, bulang modern biasanya terbuat dari sepuhan emas. Berat mahkota bulang sendiri melambangkan kesediaan sang mempelai wanita untuk mengemban tanggung jawabnya sebagai seorang istri.

    Lihat foto lainnya di sini.

    Photography: Namora Pictures.

  • Mandar

    Hiasan kepala pernikahan adat Mandar dari Sulawesi Barat mungkin terlihat lebih sederhana dibandingkan dengan adat lain. Namun, hiasan kepala tersebut sebenarnya cukup rumit. Sang pengantin mengenakan sanggul lebar yang dihiasi dengan bunga serta gal, yaitu aksesori rambut berbentuk bunga yang melingkar. Jumlah bunga dan hiasan rambut yang dikenakan bervariasi sesuai dengan status sosial keluarga sang mempelai wanita.

    Lihat foto lainnya di sini.

    Foto: David Christover.

  • Minang

    Pengantin berdarah Minang dari Sumatra Barat pasti sudah mengenal sunting atau suntiang, salah satu mahkota adat pengantin Indonesia yang paling berat. Suntiang gadang tradisional tersusun atas setidaknya 11 lapisan bunga, emas, dan aluminium. Tak heran, beratnya dapat mencapai 5 kilogram! Namun, kini semakin banyak pengantin yang memilih suntiang berbahan kuningan yang lebih ringan dan praktis.

    Lihat foto lainnya di sini.

    Foto: Le Motion.

  • Palembang

    Pengantin dari Palembang, Sumatra Selatan dapat memilih busana pengantin aesan paksangko atau aesan gede yang sama-sama cantik. Mahkota aesan gede biasanya dipasangkan dengan pakaian dodot berwarna merah muda dan aksesori emas untuk melambangkan keagungan kerajaan Sriwijaya. Sedangkan, mahkota aesan paksangko atau pak sangkok biasanya dikenakan dengan baju kurung berwarna merah.

    Lihat foto lainnya di sini.

    Foto: Journal Portraits.

  • Palembang

    Seperti halnya dengan adat lain di Indonesia, terdapat variasi dalam busana pernikahan tradisional Palembang tergantung daerahnya. Pada foto di atas, Diny sedang mengenakan hiasan kepala yang berat namun cantik dari daerah Komering Ulu di Sumatra Selatan. “Mahkota Komering Ulu asli yang saya kenakan begitu besar dan indah,” ujarnya. Setujukah Anda?

    Lihat foto lainnya di sini.

    Foto: Why Moments.

  • Palembang

    Mempelai wanita asal Palembang yang menginginkan mahkota simpel namun tetap cantik dapat mencontoh pengantin kali ini. Lala mengenakan hiasan rambut yang lebih sederhana daripada biasanya untuk melengkapi pakaian adat yang diwariskan oleh neneknya.

    Lihat foto lainnya di sini.

    Foto: The Portrait Photography.

  • Lampung

    Siger atau sigor asal Lampung sangat menarik perhatian karena ukurannya yang besar. Mahkota tersebut melambangkan kehormatan dan keanggunan sang pengantin. Sembilan sungai yang berada di Lampung diwakili oleh ujung runcing mahkota siger pepadun, yang kemudian dihiasi bunga logam di atasnya. Mahkota tiga susun yang lebih kecil diletakkan di atas siger tersebut, lalu dilengkapi dengan jalinan melati yang melambangkan kesucian sang mempelai wanita.

    Foto: Mindfolks Wedding.

  • Bugis

    Pengantin Bugis terlihat begitu unik berkat riasan dahi berwarna hitam yang disebut dadasa. Tata rambutnya pun istimewa, dengan sanggul yang berdiri tegak di bagian belakang kepala sebagai tempat menyisipkan berbagai aksesori. Hiasan bunga logam bernama pinang goyang diletakkan di atas sanggul, sedangkan bunga simpolong dipasang di sisi sanggul. Terakhir, mahkota saloko duduk di atas kepala seperti bando. Secara keseluruhan, tata rambut pengantin Bugis menyerupai burung merak yang cantik.

    Foto: Le Motion.

  • Sunda

    Mahkota siger yang anggun melambangkan kebijaksanaan, kehormatan, dan martabat seorang pengantin Sunda. Susunan bunga berbentuk kupu-kupu pada sanggul melambangkan kesetiaan sang istri kepada suaminya. Lima kembang goyang dipasang menghadap ke depan, sedangkan dua menghadap ke belakang agar sang mempelai terlihat cantik dari segala sisi. Terakhir, ronce melati dengan panjang melewati bahu menjadi simbol kesucian sang pengantin.

    Lihat foto lainnya di sini dan di sini.

    Foto: Venema Pictures dan Jacky Suharto Photography.



Kirim Komentar Anda

BACA [[ blogCommentsCtrl.commentsCount ]] Komentar

[[ comment.createdAt | amDateFormat : 'll | HH:mm' ]]

[[ comment.account.data.accountable.data.displayName ]] [[ comment.account.data.accountable.data.displayName ]]

[[ comment.content ]]