Mengatasi New Normal Culture Shock Dalam Rumah Tangga

oleh Belle Biarezky [[ 1593136800000 | amDateFormat:'ll | HH:mm' ]] di Tip Hubungan 

Warna:

Culture Shock Menghadapi New Normal

Sejak COVID-19 ditetapkan sebagai pandemi global, protokol-protokol kebersihan yang diterapkan di berbagai tempat semakin ketat, bahkan di rumah. Contohnya bisa dilihat dari cerita beberapa pasangan tenaga medis di artikel ini yang menerapkan protokol kesehatan di rumah dengan disiplin tinggi. Walaupun jumlah penderita menurun di beberapa daerah di Indonesia, namun masyarakat sudah harus mulai bersiap dengan keadaan new normal. Menerapkan kebiasaan-kebiasaan baru soal kebersihan bisa menimbulkan keadaan culture shock bagi seseorang.

Ya, culture shock bisa saja menimpa Anda ketika harus beradaptasi dengan new normal dalam kegiatan sehari-hari, termasuk di rumah. Istilah culture shock awalnya memang identik dengan orang yang bepergian ke luar kota atau negeri dan harus beradaptasi dengan norma dan kebiasaan baru masyarakat di sana, seperti bahasa dan gaya hidup. Secara mendasar, culture shock adalah disorientasi psikologis yang dialami ketika seseorang harus beradaptasi dengan hal-hal baru dalam hidupnya.

Efek culture shock memang berkesan negatif karena seseorang yang mengalaminya bisa menderita kebingungan, tertekan, bahkan perasaan terasingkan. Melakukan pekerjaan secara work from home (WFH), apalagi jika telah memiliki anak dan harus menemaninya menghadiri sekolah virtual, kemudian juga harus memenuhi kebutuhan rumah sehari-hari, tentunya bukanlah hal yang mudah bagi pasangan suami-istri. Belum lagi meningkatkan kebiasaan-kebiasaan kebersihan terhadap seluruh anggota keluarga, mencuci tangan lebih sering dan menyemprotkan cairan disinfektan sudah menjadi hal wajib yang berlaku di rumah, serta masker dan hand sanitizer adalah bawaan yang tidak boleh tertinggal ketika keluar dari rumah. Terkadang, Anda tidak sengaja lupa melakukan salah satu protokol di atas. Walaupun kesalahan tersebut sederhana, namun tidak jarang rasa frustrasi muncul, hingga perasaan panik dan paranoid karena mungkin saja Anda jadi membuka jalan untuk virus masuk ke tubuh.

4 Fase Culture Shock

Walaupun hal-hal di atas terdengar sebagai fase yang negatif untuk emosional Anda, sebenarnya culture shock tidak sepenuhnya buruk. Fase ini sebenarnya adalah sebuah proses, dan ketika Anda berhasil melaluinya, mental Anda menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Yang harus dilakukan untuk bisa mengatasinya adalah Anda harus mengenali dahulu fase-fase culture shock. Fase-fase ini dirumuskan berdasarkan penelitan yang dilakukan oleh lembaga riset di bidang pendidikan di Amerika Serikat, Participate Learning.

  • Fase Bulan Madu (Honeymoon Stage)

    Di tahap awal ini, Anda merasa sangat positif ketika memasuki babak new normal. Bahkan, Anda berpikir bahwa new normal adalah kenyamanan yang telah Anda tunggu-tunggu setelah COVID-19 diputuskan sebagai pandemi global. Tentu saja perasaan ini agak berlebihan karena Anda masih berada di tahap awal menjalankan protokol kebersihan sesuai new normal, dan dalam melaluinya, rintangan dan tantangan tentunya akan ada.

  • Fase Frustrasi (Frustration Stage)

    Umumnya, Anda akan mempratikkan kedisiplinan yang tinggi di fase bulan madu. Namun, pada tahap frustrasi, Anda mulai merasa bahwa ternyata new normal tidaklah mudah dilakukan, atau Anda mulai lalai melakukan beberapa hal walaupun sederhana. Misalnya, Anda tidak sengaja memegang wajah padahal belum mencuci tangan, atau Anda melupakan jadwal rapat virtual karena sibuk mengurus kebutuhan rumah tangga. Anda pun jadi berandai-andai kembali ke kehidupan lama di mana Anda tidak perlu kawatir untuk menyentuh wajah tanpa sengaja, atau ketika rapat temu fisik dirasa lebih nyaman daripada virtual. Tidak jarang, beberapa orang pun menjadi depresi, terlebih jika PSBB masih diterapkan di kotanya sehingga semua kegiatan harus dilakukan di rumah.

  • Fase Penyesuaian (Adjustment Stage)

    Anda pun mulai bisa keluar dari rasa frustrasi ketika Anda mulai merasa familiar dengan new normal. Protokol-protokol kebersihan, yang tadinya Anda pikir sangat sulit dipraktikkan secara konsisten, berubah menjadi sebuah kebiasaan dan Anda pun semakin jarang lalai melakukannya. Tentunya hal ini dapat terjadi ketika Anda juga mendapat dukungan dari orang-orang terdekat, seperti pasangan Anda. Saling mengingatkan antara suami dan istri adalah salah satu cara terbebas dari kondisi culture shock.

  • Fase Penerimaan (Acceptance Stage)

    Walaupun Anda masih suka berpikir seandainya protokol keluar rumah tidak semerepotkan seperti dahulu kala, Anda sudah bisa menerima bahwa new normal ini tidak bisa terhindarkan. Mungkin masih suka timbul pemikiran, “Apakah cek suhu ketika masuk ke beberapa tempat benar-benar efektif mencegah penyebaran virus?”, namun Anda tidak lagi mengeluh. Mempertanyakan hal-hal tersebut tidak lagi memenuhi pemikiran, namun Anda sudah mulai memahami bahwa turut aktif menjalankan new normal, walaupun dari hal-hal kecil, juga bisa membantu menekan penyebaran virus COVID-19.

Tips Mengatasi New Normal Culture Shock

Tentu saja culture shock di kala memasuki kondisi new normal bisa berpengaruh dalam rumah tangga. Setelah Anda mengenali gejala-gejalanya di atas, culture shock sangat mungkin dilewati. Berikut beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan agar tidak tenggelam terus menerus dalam kondisi culture shock.

1. Membuat reminder untuk beberapa hal yang rawan lalai. Misalnya, reminder untuk rapat virtual maupun kelas virtual sang buah hati, atau catatan untuk menambah persediaan hand sanitizer ketika berbelanja bulanan.
2. Menempatkan persediaan alat-alat higiene new normal di tempat yang mudah dilihat di rumah, seperti meletakkan semprotan disinfektan di dekat pintu rumah atau menyimpan beberapa masker bersih di dalam mobil.
3. Kurangi membaca berita tentang perkembangan pandemi COVID-19. Informasi yang terlalu banyak dan terus menerus justru bisa menjatuhkan mental Anda. Pilih-pilih bacaan Anda hanya dari sumber terpercaya atau yang sudah terbukti secara ilmiah.
4. Tetap menyisihkan waktu untuk melakukan aktivitas menyenangkan atau menjalankan hobi positif, seperti berolahraga, menonton film, atau memasak.
5. Ungkapkan kepada pasangan apa yang sedang Anda rasakan. Pasangan pun pasti akan mengerti dan menawarkan bantuan untuk mendukung Anda.
6. Tetaplah berkomunikasi dengan orang-orang terdekat lainnya walaupun tidak bisa bertemu, seperti video call dengan orang tua, saudara, atau teman.
7. Jangan ragu untuk meminta bantuan profesional, seperti psikolog, jika Anda masih merasa dalam tahap frustrasi terus menerus.

Salah satu cara agar Anda terhindar dari culture shock yang berlarut-larut adalah dengan memiliki me-time yang cukup di rumah. Namun, aktivitas work from home terkadang membuat Anda semakin sulit membagi waktu dengan berbagai kewajiban rumah tangga lainnya. Jangan kawatir karena di artikel ini, kami berbagi tips supaya Anda bisa tetap mendapatkan me-time selama #dirumahaja.


Kirim Komentar Anda

BACA [[ blogCommentsCtrl.commentsCount ]] Komentar

[[ comment.createdAt | amDateFormat : 'll | HH:mm' ]]

[[ comment.account.data.accountable.data.displayName ]] [[ comment.account.data.accountable.data.displayName ]]

[[ comment.content ]]

Tampilkan