Blog / Relationship Tips / Tahun Pertama Pernikahan: Masa Adaptasi terhadap Pasangan dan Keluarga Baru

Tahun Pertama Pernikahan: Masa Adaptasi terhadap Pasangan dan Keluarga Baru

Color:
Add To Board
tahun-pertama-pernikahan-masa-adaptasi-terhadap-pasangan-dan-keluarga-baru-1

Adaptasi atau proses menyesuaikan diri dengan kebiasaan, pemikiran, serta budaya pasangan adalah salah satu unsur penting dalam pernikahan. Bahkan menurut dr. Gina Anindyajati, SpKJ., adaptasi adalah isu utama dalam pernikahan. Jika proses adaptasi berjalan lancar maka pengantin baru tidak sekadar berubah menjadi suami-istri tapi juga mampu menciptakan kualitas hubungan yang sama-sama bertumbuh dan berkembang.

Lantas, bagaimana caranya agar pengantin baru dapat sukses beradaptasi di status dan lingkungan keluarga baru? "Setidaknya ada 3 hal yang wajib dimiliki para pengantin baru untuk membina hubungan yang jangka panjang," jawab dr. Gina yang berpraktik di Klinik Angsa Merah ini. Ketiga hal itu adalah,

1. Pengantin baru harus mengetahui apa yang dibutuhkan dan apa yang dapat diberikan kepada pasangan. Karena menurut dr. Gina, dalam pernikahan, idealnya bukan hanya meminta, tapi juga harus bisa memberi. Kedua belah pihak harus bisa sama-sama take and give. "Jadi, harus cari tahu dulu apa yang dibutuhkan dari hubungan pernikahan ini? Dengan begini, kita bisa menelisik, kita maunya bagaimana sih dengan hubungan pernikahan ini. Selain tahu apa yang kita butuhkan, kita juga harus mencari tahu apa yang bisa kita berikan kepada pasangan. Tidak mungkin dalam hubungan pernikahan itu, kita hanya meminta tanpa bisa memberi," jelas dr. Gina. Mengetahui apa yang Anda butuhkan dalam pernikahan, menurut dr. Gina adalah langkah dasar untuk bisa memberikan apa yang dibutuhkan pasangan. "Karena kalau kita tidak tahu kita butuhnya apa, maka kita tidak bisa minta. Ibaratnya, seperti anak kecil yang selalu menangis saja bisanya, tapi tidak bisa bilang dia menangis karena apa."

2. Pengantin baru harus memiliki keterampilan komunikasi yang efektif. Komunikasi efektif menurut dr. Gina, bukan sekadar pandai atau lihai dalam menyampaikan apa yang dia mau tapi juga perlu keterampilan untuk bisa mendengarkan. "Kalau kita tidak punya keterampilan untuk mendengarkan, maka kita tidak akan bisa paham apa yang pasangan kita butuhkan," tegas dr. Gina. Keterampilan mendengarkan ini juga akan membuka pemahaman kita akan stand point atau sudut pandang pasangan ada di mana. Pemahaman inilah yang kemudian akan membantu kita mengukur apa yang dibutuhkan pasangan serta apa yang bisa Anda tawarkan kepadanya. "Kalau kita tidak mampu mendengarkan, maka yang ada, kita akan berkonflik terus." Demikian dr. Gina mengingatkan.

3. Pengantin baru harus bisa berkomunikasi yang asertif. Komunikasi asertif adalah kemampuan untuk menyampaikan apa kita kehendaki tanpa menyakiti atau merendahkan pasangan. "Karena posisinya, kita dengan pasangan adalah setara," imbuh dr. Gina. Secara sederhana, dr. Gina menjelaskan, komunikasi asertif akan melatih bagaimana memosisikan diri ketika bicara dan menyampaikan apa yang dipikirkan dengan bahasa aku. "Karena saya yang bertanggung jawab atas apa yang saya rasakan dan pikirkan, bukan kamu." Ini idealnya. Tapi yang sering kali terjadi, sambung dr. Gina, kita tidak mau mengambil tanggung jawab sendiri. "Kalau bisa ada orang lain yang disalahkan, maka kenapa harus saya yang disalahkan."

Komunikasi asertif akan menciptakan kepercayaan serta menghargai batasan atau boundaries orang lain. Alhasil kalimat yang dibentuk pun tidak agresif dan potensi terjadinya konflik jadi lebih kecil dikarenakan tidak melimpahkan kesalahkan kepada pasangan. Contoh kalimat asertif atau bahasa 'aku' ketika lagi berkonflik, "Saya merasa tidak dihargai". Tentu akan berbeda ketika kita menyampaikan dengan gaya bahasa 'kamu', "Kamu tidak pernah menghargai saya."

Ketiga hal itulah yang nantinya menurut dr. Gina akan membuat Anda dan pasangan sama-sama bertumbuh serta berkembang menjadi keterampilan bisa berbicara secara terbuka dan jujur, bisa berkompromi, serta bisa membina hubungan jangka panjang. Maka tujuan pernikahan pun bisa dicapai dengan lebih mudah. Karena Anda dan pasangan akan lebih banyak berkolaborasi untuk melihat pernikahan sebagai proses membangun keluarga

Vendors you may like